Mungkin bukan kami yang tak menyuarakan kata kata dalam teriakan,
mungkin bukan kami yang tidak menggantungkan harapan pada kebijakan,
Mungkin bukan kami yang tak perduli kepada janji dengan kata "akan",
dan mungkin bukan kami pula yang berada dibalik orang orang yang dijadikan sebagai panutan...
Tapi mungkin alam,... yang telah lelah menyaksikan kaki berdiri di atas arogansi,
mungkin juga alam,.... yang sangat miris menyaksikan hati berbalut ambisi,
atau mungkin alam,.... yang terlalu khawatir akan datangnya kediktatoran tanpa henti,...
Dan kami,.... dengan sebongkah daging didalam dada penuh harap,....
Dan kami yang hanya diam tanpa ada kata terucap,...
Dan kami yang rindu,... akan datangnya nahkoda pengendali kapal
melaju,telah muak dengan permainan para pemilik ilmu yang terbutakan
kepentingan semu
Tapi ku tau, jika alam pun telah banyak tau,
Siapa nahkoda yang akan membawa kapal melaju
Tanpa berkurang bimbang dan ragu, ku biarkan Sang Kuasa yang menjadi penentu
Untukmu lelaki yang berhati batu...
By. Eci Ernawati
(Iseng merangkai kata gara - gara mantengin quick count pemilu capres
seharian, alhasil kepala membutuhkan sedikit amunisi, otak melemah...
hehe)
Eci Ernawati
Keep your spirit... so you will get your dream.
7.14.2014
12.05.2013
Musuh Gaib Negeri Ini
Ketika dulu..sebelum 1945
Darah bersimpah wujud bakti rakyat pada negara
Bambu runcing beradu memburu sang macan berwujud manusia
Ciptakan persatuan dan semangat meraih merdeka
Korbankan nyawa demi bersatunya Indonesia
Maka jelaslah tampak saat itu, siapa musuh kita
Namun kini .. setelah 1945
Bukan lagi darah yang tertumpah
Bukan lagi fisik terluka karna
galah
Dan bukan lagi persatuan yang
menjadi pecah
Tapi… serangan musuh seakan menelusup dibalik
pemimpin bangsa
Seakan melebur sudah arti siapa pemerintah
Sebagai pelindung atau justru
penjajah?
Sulit ditebak karna permainan
rupiah
musuh gaib yang kian lama kian
membuat resah
Kini, Musuh kita tak Nampak lagi
Kemerdekaan terasa semu seperti
mimpi
Kedamaianpun seakan mati
Tiada lagi ketulusan hati nurani, akibat
perbuatan pejabat penggemar korupsi
Teriakan rakyat diujung pulau
semakin tak terdengar,
Derita kemiskinan, kelaparan tak
lagi diperdulikan
Berharap hukum kan berpihak pada
kebenaran
Tapi itu berbeda dengan kenyataan
Kini hilang sudah kebijakan di negeri
ini
Rakyat terus menerus digerogoti ,
akibat perbuatan pejabat yang tak
bernurani
Sungguh…
Kekejaman korupsi , bagaikan musuh
gaib negeri ini
By. Eci Ernawati
Surat buruh di Peralihan Akhir Oktober
Kepada yang terhormat,
Bapak ibu pejabat..
yang berada ditempat..
Basah sudah tubuh ini bermandikan keringat
Menyatu sudah segala juang, tekad, dan semangat
Membuktikan bahwa solidaritas kami begitu kuat
Kaki yang kuat menopang menerjang panasnya alam
Tak ada berhenti dikala siang maupun malam
Memperjuangkan hak yang direnggut politik kejam
Demi tercapainya sebuah keadilan ham..
Keadilan ham untuk kami..
Yaaa...kami…
Kami para pahlawan negeri ini
Tonggak berputarnya roda ekonomi
Yang seringkali lupa untuk dihargai
Yang kami hormati,
Pemimpin negeri ini...
Lihatlah kami..
Kami bukan warga yang tak tahu diri
Kami bukan penuntut anarkis yang suka mencaci
Bukan pula pengecut yang hanya sebagai penitip nasib sejati,
tapi Kami pekerja yang tak pernah lelah berusaha dengan menyampaikan ribuan suara yang sudah kami teriakan di depan istana berharap didengarkan oleh sang penguasa
Hanya hak yang kami pinta
Bukan lebih dari apa yang kau pandang gila
Kami hanya ingin tahu dimana keadilan itu berada
Jika saja oktober lalu kau dengar suara kami
Jika saja kawan kami kau lindungi
Mungkin darah kawan kami tak akan bercucuran
Mungkin kawan kami tak perlu menjadi korban
Dari ganasnya pihak yang menjadikan kami kambing hitam
Demi kepentingan sebagian orang
Hargailah perjuangan kami..
Meski penat, namun kami tetap semangat
Meski lelah, tapi kami tak menyerah
Meski sakit, tapi kami akan bangkit
Meski terluka, tapi ketahuilah, kami baik – baik saja
Perjuangan kami belum berakhir
Justru sejarah baru akan kami ukir
Jika sepuluh november sejarah menciptakan hari pahlawan
Biarkan di satu november sejarah baru diciptakan
Cerita dibalik sebuah gerakan
Bukti buruh melahirkan pejuangan
Gerakan besar yang menjadi sejarah Sebagai bukti darah buruh pun telah tertumpah
Demikian tinta ini kami goreskan Salam hormat untuk para bangsawan
Dari buruh penulis surat di oktober peralihan
by. Eci Ernawati
Bapak ibu pejabat..
yang berada ditempat..
Basah sudah tubuh ini bermandikan keringat
Menyatu sudah segala juang, tekad, dan semangat
Membuktikan bahwa solidaritas kami begitu kuat
Kaki yang kuat menopang menerjang panasnya alam
Tak ada berhenti dikala siang maupun malam
Memperjuangkan hak yang direnggut politik kejam
Demi tercapainya sebuah keadilan ham..
Keadilan ham untuk kami..
Yaaa...kami…
Kami para pahlawan negeri ini
Tonggak berputarnya roda ekonomi
Yang seringkali lupa untuk dihargai
Yang kami hormati,
Pemimpin negeri ini...
Lihatlah kami..
Kami bukan warga yang tak tahu diri
Kami bukan penuntut anarkis yang suka mencaci
Bukan pula pengecut yang hanya sebagai penitip nasib sejati,
tapi Kami pekerja yang tak pernah lelah berusaha dengan menyampaikan ribuan suara yang sudah kami teriakan di depan istana berharap didengarkan oleh sang penguasa
Hanya hak yang kami pinta
Bukan lebih dari apa yang kau pandang gila
Kami hanya ingin tahu dimana keadilan itu berada
Jika saja oktober lalu kau dengar suara kami
Jika saja kawan kami kau lindungi
Mungkin darah kawan kami tak akan bercucuran
Mungkin kawan kami tak perlu menjadi korban
Dari ganasnya pihak yang menjadikan kami kambing hitam
Demi kepentingan sebagian orang
Hargailah perjuangan kami..
Meski penat, namun kami tetap semangat
Meski lelah, tapi kami tak menyerah
Meski sakit, tapi kami akan bangkit
Meski terluka, tapi ketahuilah, kami baik – baik saja
Perjuangan kami belum berakhir
Justru sejarah baru akan kami ukir
Jika sepuluh november sejarah menciptakan hari pahlawan
Biarkan di satu november sejarah baru diciptakan
Cerita dibalik sebuah gerakan
Bukti buruh melahirkan pejuangan
Gerakan besar yang menjadi sejarah Sebagai bukti darah buruh pun telah tertumpah
Demikian tinta ini kami goreskan Salam hormat untuk para bangsawan
Dari buruh penulis surat di oktober peralihan
by. Eci Ernawati
1.23.2013
Goresan Warna dibalik Karisma Hitam
Tulisan ini terinspirasi karena para orang hebat yang aku
idolakan, para orang hebat yang berawal dari bukan apa2 hingga dia bisa disebut
hebat. Dari sesuatu yang sangat kecil
hingga bisa menjadi sangat besar. Itulah kehendak Tuhan , Tuhan bisa membuat apapun
ketika Dia berkehendak, seperti yang tercantum di salah satu ayat dalam al
Quran “Kun fayakun” jika Alloh berkehendak maka terjadilah. Sungguh sempurna kekuatan Tuhan itu.
Saat ini aku belum jadi orang hebat, tapi aku ingin, ingin
sekali. Aku sadar aku bukanlah siapa2, tapi aku ingin kelak seluruh dunia akan
tau jika aku pantas disebut orang hebat. Aku adalah mahasiswi hukum di
universitas swasta, tapi taukan kamu aku bangga banget sama kampusku karena
memang hebat menurutku, kenapa dikatakan hebat??? Ya karena banyak melahirkan
orang hebat.
Ku awali tulisan ini dari mood ku yang seperti ombak, kadang
pasang dan kadang surut, tapi mungkin saat ini sedang pasang maka ku mulai
menulis. Sejenak ku terdiam menengok ke belakang, 20tahun lalu aku dlahirkan oleh
ibu, yang sering dipanggil mamake oleh teman2, karena memang bahasaku sedikit
kasar, “jawa ngapak” itu orang menyebutnya. Tepat hari jumat siang aku
dilahirkan, setelah sholat jumat, menurut cerita ibu, dulu aku itu gampang keluarnya,
tanpa susah payah didorong sudah brojol sendiri, hebat bukan?? Hehee.. Saat itu
kelahiranku menambah kebahagiaan dikeluarga mukim, Mukim berasal dari nama
Kakeku yang asli namanya Madmukim, nama jawa yang simpel pemberian kakek
buyutku, yah walau sedikit katrok, jawa kuno banget. Tapi mungkin itu itu sudah
nama paling trend pada zamannya.
Lama sudah orang tuaku menantikan seorang anak perempuan
setelah kelahiran kakaku laki-laki yang terpaut 10 tahun sebelum
kelahiranku. Mbah mukim, biasa ku
memanggil kakek. Saat umurku 3 tahun beliau sering mengajaku jalan-jalan dengan
sepeda roda 3 warna kuning. Namun waktu yang deberikan untuku bersamanya tidak
lama, hanya tiga tahun setelah itu kakeku tiada, menghadap ke pangkuanNya,
tempat ternyaman disisiNya.
Keluarga mukim sepeti
kehilangan tiang yang selama ini menyangga tiang kebesaran keluarga kami, tokoh
ayah dan kakek yang bijak. Namun inilah takdir, jadi hidup harus tetap
berjalan.
Berangkat pake sepeda
pulang jalan kaki
Cici...cici.... tangi... wis awan, terdengar suara perempuan
setengah baya dari ruang dapur, suara
ngapak khas ibuku. Saat itu juga aku
langsung beranjak bangun dari tempat tidurku, dan segera merapihkan tempat
tidurku. Nggeh mak..!!” suara kecilku
dari kamar paling ujung rumahku. Mandi dan langsung menuju sekolah Taman
Kanak-kanak Kartini.
1.13.2012
12.05.2011
Perjalanan Di Kota Keraton
Mengungkap isi dalam otak ini dengan rangkaian kata yang tertuang dalam tulisan blog ini membuatku merasa sedikit bisa berkarya. Yahhh.... walaupun hanya sekedar penulis amatir, tapi cukup membantu belajarku dalam menuangkan suatu ide. Kadang antara hati dan logika ini tak singkron, begitu banyak angan-angan dan keinginanku, .... tapi ada keinginan lain yang mungkin harus aku kalahkan... ini bicara soal hati kawan, perasaan... oh.. sungguh tidak bisa dikompromi.. sudah 2,5 tahun saya menjalani hari2 dikota keraton ini, dan selama itu saya membayar ilmu di universitas swasta ini... UII... yah.. awalnya bukan itu mimpiku, tapi Alloh selalu baik, bonus ... saya dapat bonus dari Tuhan.... ya universitas ini yang memberikan banyak bonus untuku... bersambung____
11.30.2011
Masa.......
Masa yang tak lama, namun menyisakan memory indah....
Masa dimana ku bisa sandarkan raga ini pada bahunya, masa dimana ku bisa letakan tangan ini erat memeluknya, dan masa dimana dia berikan kasih sayang itu sampai ku dapatkan kenyamanan....
Saat ada masa aku harus terpisah darinya dan terhalang batas negara, keyakinan itu menguatkan kami untuk tetap dekat dalam hati walau raga kita jauh, tak pernah sedikitpun hati ini menoleh darinya.... hingga sampai ada masa menyatukan kami kembali, dia menyambutku dengan sukacita.... masa yang telah kami rindukan untuk menjalani hari2 dikota keraton itu... namun masa lagi-lagi membangunkan kami dari kebahagiaan itu.... masa memisahkan kami, kali ini bukan raga yang terpisah... tapi hati ini yang terpisah,,,,,
tetesan air mata seakan-akan mengiringi perjalanan masa itu, tapi masa itu tidak peduli pada kami, ia tidak memberi masa yang menyatukan kami, tapi masa itu membiarkan pecahan hati itu menemukan masa yang lain,,,...
apakah saya masih pantas merindukan masa memory indah itu...????
Subscribe to:
Posts (Atom)