12.05.2013

Musuh Gaib Negeri Ini



Ketika dulu..sebelum 1945
Darah bersimpah wujud bakti rakyat pada negara
Bambu runcing beradu memburu sang macan berwujud manusia
Ciptakan persatuan dan semangat meraih merdeka
Korbankan nyawa demi bersatunya Indonesia
Maka jelaslah tampak saat itu, siapa musuh kita

Namun kini .. setelah 1945
Bukan lagi darah yang tertumpah
Bukan lagi fisik terluka karna galah
Dan bukan lagi persatuan yang menjadi pecah
Tapi…  serangan musuh seakan menelusup dibalik pemimpin bangsa
Seakan melebur sudah arti siapa pemerintah
Sebagai pelindung atau justru penjajah?
Sulit ditebak karna permainan rupiah
musuh gaib yang kian lama kian membuat resah

Kini, Musuh kita tak Nampak lagi
Kemerdekaan terasa semu seperti mimpi
Kedamaianpun seakan mati
Tiada lagi ketulusan hati nurani, akibat perbuatan pejabat penggemar korupsi

Teriakan rakyat diujung pulau semakin tak terdengar,
Derita kemiskinan, kelaparan tak lagi diperdulikan
Berharap hukum kan berpihak pada kebenaran
Tapi itu berbeda dengan kenyataan
Kini hilang sudah kebijakan di negeri ini
Rakyat terus menerus digerogoti ,
akibat perbuatan pejabat yang tak bernurani

Sungguh…
Kekejaman korupsi , bagaikan musuh gaib negeri ini

By. Eci Ernawati

Surat buruh di Peralihan Akhir Oktober

Kepada yang terhormat,
Bapak ibu pejabat..
yang berada ditempat..

Basah sudah tubuh ini bermandikan keringat
Menyatu sudah segala juang, tekad, dan semangat
Membuktikan bahwa solidaritas kami begitu kuat
Kaki yang kuat menopang menerjang panasnya alam
Tak ada berhenti dikala siang maupun malam
Memperjuangkan hak yang direnggut politik kejam
Demi tercapainya sebuah keadilan ham..

Keadilan ham untuk kami..
Yaaa...kami…
Kami para pahlawan negeri ini
Tonggak berputarnya roda ekonomi
Yang seringkali lupa untuk dihargai

Yang kami hormati,
Pemimpin negeri ini...

Lihatlah kami..
Kami bukan warga yang tak tahu diri
Kami bukan penuntut anarkis yang suka mencaci
Bukan pula pengecut yang hanya sebagai penitip nasib sejati,
tapi Kami pekerja yang tak pernah lelah berusaha dengan menyampaikan ribuan suara yang sudah kami teriakan di depan istana berharap didengarkan oleh sang penguasa

Hanya hak yang kami pinta
Bukan lebih dari apa yang kau pandang gila
Kami hanya ingin tahu dimana keadilan itu berada
Jika saja oktober lalu kau dengar suara kami
Jika saja kawan kami kau lindungi
Mungkin darah kawan kami tak akan bercucuran
Mungkin kawan kami tak perlu menjadi korban
Dari ganasnya pihak yang menjadikan kami kambing hitam
Demi kepentingan sebagian orang

 Hargailah perjuangan kami..
Meski penat, namun kami tetap semangat
Meski lelah, tapi kami tak menyerah
Meski sakit, tapi kami akan bangkit
Meski terluka, tapi ketahuilah, kami baik – baik saja

Perjuangan kami belum berakhir
Justru sejarah baru akan kami ukir
Jika sepuluh november sejarah menciptakan hari pahlawan
Biarkan di satu november sejarah baru diciptakan
Cerita dibalik sebuah gerakan
Bukti buruh melahirkan pejuangan

Gerakan besar yang menjadi sejarah Sebagai bukti darah buruh pun telah tertumpah
Demikian tinta ini kami goreskan Salam hormat untuk para bangsawan
Dari buruh penulis surat di oktober peralihan

by. Eci Ernawati