Tulisan ini terinspirasi karena para orang hebat yang aku
idolakan, para orang hebat yang berawal dari bukan apa2 hingga dia bisa disebut
hebat. Dari sesuatu yang sangat kecil
hingga bisa menjadi sangat besar. Itulah kehendak Tuhan , Tuhan bisa membuat apapun
ketika Dia berkehendak, seperti yang tercantum di salah satu ayat dalam al
Quran “Kun fayakun” jika Alloh berkehendak maka terjadilah. Sungguh sempurna kekuatan Tuhan itu.
Saat ini aku belum jadi orang hebat, tapi aku ingin, ingin
sekali. Aku sadar aku bukanlah siapa2, tapi aku ingin kelak seluruh dunia akan
tau jika aku pantas disebut orang hebat. Aku adalah mahasiswi hukum di
universitas swasta, tapi taukan kamu aku bangga banget sama kampusku karena
memang hebat menurutku, kenapa dikatakan hebat??? Ya karena banyak melahirkan
orang hebat.
Ku awali tulisan ini dari mood ku yang seperti ombak, kadang
pasang dan kadang surut, tapi mungkin saat ini sedang pasang maka ku mulai
menulis. Sejenak ku terdiam menengok ke belakang, 20tahun lalu aku dlahirkan oleh
ibu, yang sering dipanggil mamake oleh teman2, karena memang bahasaku sedikit
kasar, “jawa ngapak” itu orang menyebutnya. Tepat hari jumat siang aku
dilahirkan, setelah sholat jumat, menurut cerita ibu, dulu aku itu gampang keluarnya,
tanpa susah payah didorong sudah brojol sendiri, hebat bukan?? Hehee.. Saat itu
kelahiranku menambah kebahagiaan dikeluarga mukim, Mukim berasal dari nama
Kakeku yang asli namanya Madmukim, nama jawa yang simpel pemberian kakek
buyutku, yah walau sedikit katrok, jawa kuno banget. Tapi mungkin itu itu sudah
nama paling trend pada zamannya.
Lama sudah orang tuaku menantikan seorang anak perempuan
setelah kelahiran kakaku laki-laki yang terpaut 10 tahun sebelum
kelahiranku. Mbah mukim, biasa ku
memanggil kakek. Saat umurku 3 tahun beliau sering mengajaku jalan-jalan dengan
sepeda roda 3 warna kuning. Namun waktu yang deberikan untuku bersamanya tidak
lama, hanya tiga tahun setelah itu kakeku tiada, menghadap ke pangkuanNya,
tempat ternyaman disisiNya.
Keluarga mukim sepeti
kehilangan tiang yang selama ini menyangga tiang kebesaran keluarga kami, tokoh
ayah dan kakek yang bijak. Namun inilah takdir, jadi hidup harus tetap
berjalan.
Berangkat pake sepeda
pulang jalan kaki
Cici...cici.... tangi... wis awan, terdengar suara perempuan
setengah baya dari ruang dapur, suara
ngapak khas ibuku. Saat itu juga aku
langsung beranjak bangun dari tempat tidurku, dan segera merapihkan tempat
tidurku. Nggeh mak..!!” suara kecilku
dari kamar paling ujung rumahku. Mandi dan langsung menuju sekolah Taman
Kanak-kanak Kartini.
No comments:
Post a Comment