1.23.2013

Goresan Warna dibalik Karisma Hitam


Tulisan ini terinspirasi karena para orang hebat yang aku idolakan, para orang hebat yang berawal dari bukan apa2 hingga dia bisa disebut hebat.  Dari sesuatu yang sangat kecil hingga bisa menjadi sangat besar. Itulah kehendak Tuhan , Tuhan bisa membuat apapun ketika Dia berkehendak, seperti yang tercantum di salah satu ayat dalam al Quran “Kun fayakun” jika Alloh berkehendak maka terjadilah.  Sungguh sempurna kekuatan Tuhan itu.
Saat ini aku belum jadi orang hebat, tapi aku ingin, ingin sekali. Aku sadar aku bukanlah siapa2, tapi aku ingin kelak seluruh dunia akan tau jika aku pantas disebut orang hebat. Aku adalah mahasiswi hukum di universitas swasta, tapi taukan kamu aku bangga banget sama kampusku karena memang hebat menurutku, kenapa dikatakan hebat??? Ya karena banyak melahirkan orang hebat.
Ku awali tulisan ini dari mood ku yang seperti ombak, kadang pasang dan kadang surut, tapi mungkin saat ini sedang pasang maka ku mulai menulis. Sejenak ku terdiam menengok ke belakang, 20tahun lalu aku dlahirkan oleh ibu, yang sering dipanggil mamake oleh teman2, karena memang bahasaku sedikit kasar, “jawa ngapak” itu orang menyebutnya. Tepat hari jumat siang aku dilahirkan, setelah sholat jumat, menurut cerita ibu, dulu aku itu gampang keluarnya, tanpa susah payah didorong sudah brojol sendiri, hebat bukan?? Hehee.. Saat itu kelahiranku menambah kebahagiaan dikeluarga mukim, Mukim berasal dari nama Kakeku yang asli namanya Madmukim, nama jawa yang simpel pemberian kakek buyutku, yah walau sedikit katrok, jawa kuno banget. Tapi mungkin itu itu sudah nama paling trend pada zamannya.
Lama sudah orang tuaku menantikan seorang anak perempuan setelah kelahiran kakaku laki-laki yang terpaut 10 tahun sebelum kelahiranku.  Mbah mukim, biasa ku memanggil kakek. Saat umurku 3 tahun beliau sering mengajaku jalan-jalan dengan sepeda roda 3 warna kuning. Namun waktu yang deberikan untuku bersamanya tidak lama, hanya tiga tahun setelah itu kakeku tiada, menghadap ke pangkuanNya, tempat ternyaman disisiNya.
Keluarga mukim  sepeti kehilangan tiang yang selama ini menyangga tiang kebesaran keluarga kami, tokoh ayah dan kakek yang bijak. Namun inilah takdir, jadi hidup harus tetap berjalan.
Berangkat pake sepeda pulang jalan kaki
Cici...cici.... tangi... wis awan, terdengar suara perempuan setengah baya dari  ruang dapur, suara ngapak khas ibuku.  Saat itu juga aku langsung beranjak bangun dari tempat tidurku, dan segera merapihkan tempat tidurku.  Nggeh mak..!!” suara kecilku dari kamar paling ujung rumahku. Mandi dan langsung menuju sekolah Taman Kanak-kanak Kartini.

No comments: